“Kini Website Harus Imbangi Aplikasi”, Obrolan Front-End Bareng Kevin

Kenapa ya Front-End kerap dianggap sebagai spesialisasi programming yang sepele? Front-End disebut-sebut hanya menjalankan kemauan desainer dan bergantung kepada awak Back-End. Front-End developer kami, Kevin, angkat bicara sekaligus berbagi pengalamannya beberapa tahun terakhir.

Tentang Front-End

Kenapa pilih Front-End?

Karena Front-End itu muka dari suatu web. Hasil kerja Front-End kan berbentuk tampilan yang akan dilihat oleh orang. Ketilka bisa dilihat dan memuaskan orang, di situ gue ada kebanggaan tersendiri. Makannya, gue pilih Front-End.

Kenapa pilih Website?

Mirip dengan alasan kenapa gue suka Front-End, karena bisa dinikmati lebih banyak orang sih. Ketika orang punya URL kita, orang itu bisa buka dan langsung menikmati hasil kerja kita. Berbeda dengan aplikasi komputer atau desktop app, di mana orang yang bisa menikmati hasil kerja kita terbatas pada orang yang ada di depan komputer itu saja.

Website yang menginspirasi?

Untuk e-commerce, gue suka websitenya Tokopedia, karena kesan pertama adalah clean. Kalau sumber ketika stuck nyari tampilan, ada Element yang juga menjadi panutan gue dalam belajar Vue. Komponen dan kode di sini banyak meningkatkan pengetahuan gue. Gue juga suka God of War khususnya loading animation dan desain websitenya.

Bagaimana cara memantau tren Front-End?

Di Facebook gue ikut grup-grup Front-End, salah satunya Vue Indonesia. Tapi dibanding medsos, gue lebih suka lihat di forum karena bentuknya benar-benar diskusi. Salah satunya gue suka diskusi di Quora atau artikel dari ekspertis langsung dari Medium. Github juga jadi tempat programmer banyak berkumpul, berdiskusi dan mencari solusi atas permasalahan di kodingan-nya.

 

Dulu dan Sekarang 

Bagaimana situasi Front-End saat ini?

Semakin berkembang teknologi, semakin malas user-nya. Kebanyakan user ingin semuanya langsung kebuka. Langsung bisa dilihat, serba cepat, tanpa nunggu lagi. Daripada nunggu web yang masih nge-load, biasanya lebih baik tutup halaman, terus buka tempat lain.

Adakah perbedaan antara Front-End dulu dan sekarang?

Ada. Dulu pekerjaan Front-End hanya dilihat berkutat di HTML biasa. Bikin sesuai dengan desain tanpa ada tantangan, yang katanya hanya ada di Back-End. Sekarang sudah banyak berubah karena tuntutan user sekarang makin banyak. Khususnya di Front-End, user ingin ringan, gak pake load dan sebagainya.

Apa yang mendasari perubahan signifikan Front-End?

Berubah sejak kemunculan Node.js tahun 2009 oleh Ryan Dhal. JavaScript, yang dulu awam dianggap untuk memanipulasi tampilan dan efek tampilan websitenya, berubah menjadi bahasa pemrograman yang dapat menangani jutaan request ke dalam server site application.

Ditambah lagi dengan perkembangan NPM (Node Package Manager) di mana developer yang ada di seluruh dunia dapat publish sekaligus menggunakan modul JavaScript dalam package manager tersebut. Dari situ perkembangan JavaScript membludak, yang berimbas pula ke perkembangan Front-End.

Mengapa kini user semakin banyak menuntut Front-End?

Faktor utama adalah karena sekarang website harus mengimbangi aplikasi. Karena maraknya penggunaan perangkat mobile (tablet dan smartphone), aplikasi jadi dianggap yang paling lumrah. Web juga harus mengimbangi aspek mudah dan cepat yang ditawarkan oleh aplikasi. Sebab itu juga web sekarang  hadir dengan alternatif SPA, PWA, dan OF.

 

Survei dari We Are Social & Hootsuite menunjukkan peningkatan akses website melalui mobile dan penurunan penggunaan desktop [Digital in 2017: Global Overview. https://wearesocial-net.s3.amazonaws.com/uk/wp-content/uploads/sites/2/2017/01/Slide035.png]

Apa itu SPA, PWA & OF?

SPA atau Single Page Application adalah halaman web yang dibuat untuk menyediakan UX (User Experience) menyerupai aplikasi desktop. Semua komponen yang diperlukan seperti HTML, CSS, JavaScript langsung dimuat ketika halaman pertama kali dibuka. Jadi, pergantian halaman gak perlu memuat komponen lagi (reload).

PWA atau Progressive Web Application adalah web yang bisa kita download/install di device kita. Pada dasarnya PWA adalah halaman website biasa tapi dapat tampil ke user dengan tampilan dan UX yang sama dengan aplikasi.

OF atau Offline First adalah web yang dapat dibuka offline. Hal ini memungkinkan karena data disimpan di penyimpanan lokal pada browser milik user.

Secara garis besar, ketiganya menyediakan website yang relatif lebih cepat dari web konvensional yang kita sebut MPA atau Multiple Page Application.

Dengan hadirnya alternatif semacam ini, Front-End jadi lebih berperan aktif dalam menampilkan end-product di website klien. Gak sekadar nge-tag HTML dan manggil-manggil data saja.

 

 

Mengerjakan Front-End

Tanggapan mengenai stereotip bahwa Front-End itu sepele?

Mungkin benar pendapat orang bahwa Front-End ini sepele, jika hanya sebatas HTML dan CSS saja. Tapi sekarang kan Front-End lebih sering berkutik dengan JavaScript. Sedangkan, JavaScript tidak bisa dibilang sepele karena butuh logic secara keseluruhan, yang berarti kita harus mengerti coding dan programming.

Ketika mengerjakan kustomisasi klien, lebih memilih dengan permintaan atau bebas kreativitas sendiri?

Lebih suka by rules. Gue gak suka yang ambigu. Lebih suka diberikan gambaran detail. Kekurangan hal detail ini juga yang biasanya bikin instruksi kurang jelas. Ini juga yang biasanya mengakibatkan miskomunikasi dengan klien.

Apa pendapat tentang tren dalam teknologi?

Tren di bidang teknologi sekarang berkembang sangat pesat, kalau kita harus terus mengimbangi teknologi kita dengan tren yang ada di dunia, pasti bakalan overwhelming banget. Jadi, sekarang teknologi lebih baik diikuti berdasarkan perlu atau tidak. Kalau gak butuh, ya gak perlu ikutin.

 


Tentang Kevin: Front-End Developer

Lahir di Sungailiat, 7 Januari 1993, Kevin mengenyam pendidikan S1 jurusan Sistem Informasi di Universitas Bina Nusantara.

Selepas kuliah tahun 2014, Kevin memimpn tim web admin di salah satu perusahaan multinasional di Indonesia. Ia dan tim bertanggung jawab atas landing page, HTML dan update konten website perusahaan tersebut.

Kevin menguasai C#, Java, JavaScript, Vue dan jQuery. Di Qasico, Kevin mengerjakan Front-End untuk Aruna, Konektifa dan proyek-proyek kustom ERP lainnya.

 


Ref:

http://www.commonplaces.com/blog/the-growth-and-future-of-front-end-development/

https://hackernoon.com/how-it-feels-to-learn-javascript-in-2016-d3a717dd577f

https://wearesocial.com/uk/special-reports/digital-in-2017-global-overview

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *