Memulihkan Perusahaan dari Musibah Kehilangan Data

Kini hampir semua perusahaan mempercayakan data-nya kepada sistem informasi. Akibatnya, keberlangsungan bisnis amat bergantung kepada sistem tersebut. Kemungkinan buruk yang bisa terjadi adalah jika data-data tersebut raib.

Di dunia IT, kasus kehilangan data lebih populer dengan sebutan data disaster atau “musibah data”. Yang dimaksud musibah di sini adalah kehilangan data dengan sebab apapun, yang mengancam keberlangsungan infrastruktur suatu teknologi informasi. Bukan lagi bicara tentang kelalaian manusia, musibah ini bisa juga terjadi akibat serangan siber, kegagalan migrasi data, server crash atau hardware rusak.

 

Berikut adalah hal-hal yang dapat dilakukan ketika menghadapi musibah data:

1. Cek Hasil Back-up

Data dalam suatu aplikasi atau sistem informasi pada dasarnya tidak bisa langsung benar-benar hilang. Minta bantuan pihak IT untuk mengembalikan data-data yang masih tersimpan di database. Jika data benar-benar hilang dari database, langsung ke tahap kedua.

2. Informasikan Situasi kepada Staf

Setidaknya, staf internal perlu mengetahui apa yang terjadi. Jika memang telah terbukti ada kelalaian, terima dan pikirkan langkah ke depan bersama-sama. Jangan sampai ada upaya untuk “menambal” data tanpa sepengetahuan pihak-pihak pengambil keputusan. Ada baiknya tidak langsung memberitakan ini kepada end-customer sampai nanti sudah ada kejelasan upaya pemulihan.

3. Apapun yang Tersisa, Manfaatkan

Back to basic. Jika data benar-benar tidak tertolong, maka cara manual harus segera dilakukan. Jangan terpaku dengan upaya penyelamatan teknis, kita juga dapat mengumpulkan informasi terkait dari dokumentasi offline, di penyimpanan lokal maupun cloud.

4. Hubungi Vendor untuk Disaster Recovery (DR)

Dengan adanya masalah data, tentunya sistem berada dalam kondisi tidak dapat beroperasi. Kondisi ini biasa disebut downtime. Semakin lama downtime-nya, semakin berisiko terhadap keberlangsungan bisnis. Menekan downtime menjadi fokus utama ketika  menangani DR. Lebih tepatnya, upaya agar teknologi dapat kembali beroperasi untuk kebutuhan bisnis penggunanya.

5. Benahi Penyimpanan dan Otomatisasi

Berdasarkan musibah ini, perlu ada perencanaan Disaster Recovery (DR) yang dibuat atas kebijakan internal perusahaan maupun atas konsultasi pihak ketiga. Ini juga sebaiknya dibuat beriringan dengan manajemen keberlangsungan bisnis atau Business Continuity (BC). Yang terpenting, buat perencanaan back-up dan pengecekan back-up secara berkala.


Ref:

http://www.infoworld.com/article/3197849/disaster-recovery/avoiding-a-data-disaster-could-your-business-recover-from-human-error.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Disaster_recovery

http://windowsitpro.com/cloud-data-center/your-server-died-and-your-backups-are-gone-heres-what-do-next

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *