Sibuk Cari Laku? Vao Punya Cara Hack-nya

Dalam Sales & Marketing (S&M)  ternyata “laku” juga diartikan sebagai pertemuan antara masalah dan solusi.

Bisnis mungkin mengatakan suatu produk laku jika angka sales-nya mampu melampaui target. Masyarakat mungkin memberikan titel “laku” kepada produk yang namanya sering ia dengar-dengar di tengah masyarakat.

Tetapi bagi Vicktor Aritonang Ompusunggu (Vao), CCO Qasico & Konektifa, menjual produk berawal dari 1 pertanyaan fundamental: “Apakah produk kita sudah menyelesaikan beberapa masalah manusia?”.  Simak kelanjutan Vao membahas serba-serbi seni menjual di sini.

Volkan Olmez via Unsplash

Pertanyaan Sakti

Mari kita ulang pertanyaan sakti dari Vao di atas, “Apakah produk kita sudah menyelesaikan beberapa masalah manusia?”

Jika jawabannya “belum”, maka tugas S&M adalah ikut mendorong development produk tersebut hingga berhasil mendekati beberapa masalah masyarakat. Ini adalah “Produk harus dilempar ke masyarakat untuk mengetahui tingkat kegunaannya lewat tes dan ukur. Tidak ada jalan lain”, tanggap Vao.

Jika jawabannya “sudah”, maka S&M harus menjelaskan “bagaimana produk tersebut dapat membantu harkat hidup orang banyak”. Si “Bagaimana” ini menjadi penting, sebab akan menjadi dasar dalam strategi S&M, yang nantinya menentukan target pasar, metode penetrasi, hingga strategi retain pasar tersebut.

Tang-ting-tung, Yang Mana Pasarnya

Kekuatan terbesar S&M terletak pada kemampuan untuk menetapkan solusi yang ditawarkan produk dan bagaimana mengantarkannya kepada masyarakat.

S&M akan menjadi berat ketika “gak tau pasar-nya, gak tau mau jual ke mana”, jelas Vao. Menurutnya, tidak jarang juga ada S&M yang merasa target pasar-nya sudah tepat, padahal belum. “Apakah pasarnya sudah tepat atau belum itu pasti dilihat dari pencapaian sales-nya”. Ia menambahkan bahwa jika suatu konsep bisnis sudah mantap namun pencapaian sales-nya tidak memuaskan, pasti ada yang salah.

“Jika kita lihat Instagram, dulu mereka konsepnya geo-tag, tapi dari hasil tes-ukur, ada kebutuhan orang-orang untuk “tampil”. Lebih banyak orang yang butuh selfie daripada geo-tag. Pada akhirnya, Instagram geser fungsi jadi media sosial, dan itu terbukti berhasil”, menurut Vao Instagram adalah contoh dari produk yang mempelajari pasar dengan baik.

 

Gimana Kalau Kita Hack?

S&M suatu produk itu tidak perlu sepenuhnya berpatokan pada konsep awal, melainkan berdasarkan feedback pasar.

Ryan Holiday, pencetus “growth hack marketing”, mengagas bahwa marketing kini tidak harus mengorbankan pengeluaran besar-besaran, tetapi lebih kepada apa yang paling dibutuhkan masyarakat. Maka dari itu, hack S&M untuk setiap produk menjadi spesifik, sehingga akan berbeda-beda.

Hack S&M versi Vao lebih mengemas value sisi emosional masyarakat. Vao juga mengajak kita untuk melihat strategi emosional dari cerita bersambung Tropicana Slim, atau film pendek dan lagu “Surat Cinta untuk Starla” dari Virgoun. Konsep S&M seperti ini melakukan penetrasi produk ke dalam pengalaman pribadi masyarakat.

Tren Baru

Vao mengingatkan bahwa selalu ada perubahan dalam bisnis, tak terkecuali tren growth hack yang akan segera digantikan dengan tren baru.

“Dulu jualan cuma pakai fungsi”, cerita Vao. Kemudian, jualan bergeser menjadi berdasarkan benefit (rupiah, efisiensi, keawetan pemakaian), dan kemudian menjadi value. Lalu, apa tren berikutnya? Menurut Vao, nantinya masyarakat akan mencari produk yang “pasti” memenuhi kebutuhannya.

“Nama [metode baru]-nya apa saya gak tahu, tapi penyampaian marketing bukan lagi soal kecepatan, melainkan kepastian.” jelas Vao yang membaca tren S&M setelah berkecimpung sekitar 10 tahun di sana.

 

iconicbestiary via Freepik

Apa yang Bisa Kita Harapkan?

S&M yang bisa menjawab kebutuhan tersebut harus berlandaskan karakter masyarakat sekitarnya.

Dari pengalaman menjual produk dan bertahun-tahun meriset kebutuhan dasar masyarakat lokal, Vao menyatakan bahwa aset terbesar yaitu karakter SDM.

“Saya melihat untuk membangun bisnis tidak mengedepankan yang namanya skill, knowledge, karena nomor satu tetap integritas. Banyak yang punya ilmu dan skill tinggi tapi tidak bisa dipercaya. Ada juga yang punya pengalaman biasa aja tetapi dapat dipercaya”, tutup Vao.

Melalui perspektif S&M tersebut, Vao yakin bahwa ketika karakter SDM dipertemukan dengan solusi yang ditawarkan produk, maka akan tercipta ekosistem bisnis yng kuat dan baik. Ketika masalah masyarakat telah terjawab, alhasil urusan cari “laku” sudah tak jadi masalah.


Tentang Vicktor Aritonang Ompusunggu (VAO): Chief Commercial Officer

Vicktor Aritonang Ompusunggu lebih memilih dipanggil dengan inisialnya, VAO. Lahir di Tulang Bawang, 21 Mei 1986. Lahir dan besar di Lampung, Vao pindah ke Jakarta untuk meneruskan karirnya di bidang Sales & Marketing (S&M). 

Selain menjabat sebagai Chief Commercial Officer (CCO), Vao juga merupakan Coach untuk berbagai training, salah satunya leadership.


Ref:

Ryan Holiday, 2013. Growth Hacker Marketing

Startup Jungle – https://www.youtube.com/watch?v=qvkpUlRQ4W0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *